Tentang Keluarga

March 28, 2018


Sepengamatan saya, banyak anak remaja yang ketika mulai beranjak dewasa jarang lagi menghabiskan waktu bersama keluarga, mereka biasanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sepermainan dan sering pergi kemana-mana. Alasannya karena teman-teman kita lebih asyik, lebih nyambung ngobrolnya, lebih rame, dan lebih-lebih lainnya. Saya juga merasa salah satunya. Dulu saya merasa malas jika menghabiskan waktu bersama keluarga, karena merasa kurang fun. Termasuk adik saya, dia juga sepertinya orang yang gak terlalu interest jika jalan-jalan bareng. Tapi karena tradisi di keluarga saya adalah kebersamaan, ya mau gak mau harus ikut. Sehingga saya sering merasa di paksa. Dulu. Perspektif saya seperti itu waktu masih kuliah. DULU.


Setelah lulus dan kerja, teman-teman akrab yang setiap hari bertemu dan menghabiskan waktu bersama untuk main satu-persatu hilang di telan kesibukannya sendiri. Waktu buat ketemu aja susahnya bukan main karena terpentok jadwal kantor dan jadwal lain. Disitu saya sadar, kalau ujung nya kita semua bakal balik ke keluarga. Tidak ada yang lebih peduli, sepeduli-peduli nya dari pada keluarga sendiri. Kamu jatuh, terpuruk, nge down, what will your best friends do? Sebanter-banternya adalah bilang sabar, sabar, dan support kita, selanjutnya? semuanya kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Kita juga gak bisa ekspektasi terlalu tinggi pula sama teman-teman kita, karena bukan cuma kita yang punya masalah di dunia ini. Everybody has own prob. Tapi disini saya memfokuskan bahasan saya mengenai keluarga. Kita sedih dikit aja, liat gimana effort orang tua kita buat balikin lagi semangat anaknya, kadang usaha mereka gak keliatan/ keliatannya gak peduli, tapi percaya deh, they really care, mereka bener-bener peduli. Siapa yang tau kalau selama ini orangtua kita selalu bangun di tengah malam shalat dan doain kita sampe nangis? Siapa yang tau kalau selama ini bapak ibu kita hidup hemat-hemat supaya uangnya bisa di gunakan untuk pendidikan kita? Siapa yang tau kalau selama ini mereka capek banting tulang demi memenuhi kebutuhan remeh temeh gak penting kita? dan balasan kita? cuma bikin sakit hati.

ini ayah :)

One day, kalau lagi sendiri dan semua temen lagi sibuk dengan urusannya masing-masing, bakal kerasa tuh betapa keluarga yang dulu sering kita nomer dua kan dibanding temen-temen main kita itu berharga banget. Tapi, lepas dari itu semua saya juga paham kalau menggantungkan pengharapan sama manusia itu suka bikin capek hati dan kecewa sendiri. Ujungnya hanya Tuhan lah tempat kembali segala sesuatu.

Tulisan ini saya buat untuk saya baca lagi suatu hari nanti sebagai pengingat kalau saya punya banyak cerita bahagia dalam hidup jadi jangan lembek kalau di kasih ujian dikit karena Tuhan sudah memberikan begitu banyak kebahagiaan di waktu sebelumnya. and last, i love you mom, dad. Thankyou...








































You Might Also Like

0 comments